Sampah, Cermin Buram Peradaban Modern
Di era modern, manusia berlomba membangun kota, gedung tinggi, infrastruktur, dan segala bentuk simbol kemajuan. Tetapi di balik kaca-kaca tower dan lampu kota yang gemerlap, ada satu kenyataan yang tidak pernah benar-benar selesai dibahas... sampah. Masalah ini seperti tamu yang tidak pernah diundang, tapi selalu datang dan susah diusir.
Setiap hari, Indonesia menghasilkan ribuan ton sampah. Menurut data Kemendagri 2021, Jakarta saja menyumbang sekitar 8.000 ton per hari.
Ironisnya, jumlah itu tidak jauh berbeda dengan kota-kota besar lain yang sama-sama sibuk berlari mengejar modernitas, tapi kedodoran di urusan limbah rumah tangga.
Sampah yang menumpuk bukan sekadar tanda konsumsi tinggi, tapi juga indikator rendahnya kesadaran memilah sejak dari rumah.
Perilaku kita sederhana saja: buang, lupakan, anggap selesai. Padahal urusan sampah baru benar-benar selesai ketika materialnya kembali bernilai: diproses, diolah, dan masuk kembali ke siklus ekonomi.
Tetapi untuk sebagian besar masyarakat, memilah sampah masih dirasa “ribet.” Padahal ribetnya hanya buka tutup dua kantong, bukan operasi jantung terbuka.
Di saat yang sama, para pemulung yang sering dipandang sebelah mata, justru menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.
Sebagian dari kita mungkin merasa risih melihat gerobak sampah di pinggir jalan, tapi tanpa mereka gunungan plastik bisa saja dua kali lebih cepat naik ke TPA.
Namun posisi pemulung dalam rantai ekonomi sampah masih amat timpang. Kerja keras mereka dihargai rendah karena permainan rantai tengkulak.
Di titik inilah teknologi, jika jatuh ke tangan orang yang tepat, bisa menjadi alat keadilan sosial. Dan, salah satu tokoh yang membuktikannya adalah seorang perempuan yang memilih turun langsung, bukan sekadar kampanye modis soal “green living.”
Ketika Kepedulian Berubah Menjadi Sistem
Siti Salamah tidak memulai perjalanannya dari laboratorium teknologi atau ruang konferensi canggih. Gerakannya justru lahir dari keprihatinan terhadap anak-anak pemulung yang kesulitan mengakses pendidikan.
Tahun 2015, sepulang kerja, ia rutin masuk ke kawasan pemukiman pemulung di Tangerang Selatan. Di sana, ia melihat generasi yang berisiko mewarisi kemiskinan tanpa sempat naik kelas.
Dari pendidikan, langkahnya menjalar ke pemberdayaan ekonomi keluarga pemulung. Jika pendidikan ingin berkelanjutan, sumber penghasilan orang tua harus stabil.
Dan ketika bicara stabilitas, akar masalahnya kembali ke pengelolaan sampah, sesuatu yang selama ini terfragmentasi, tidak efisien, dan menempatkan pemulung sebagai kelas terbawah.
Maka pada 2018 gagasan awal “WasteHub” lahir, dan pada pertengahan 2019 naik kelas menjadi inovasi sosial bernama Waste Solution Hub. Ini adalah sebuah sistem pengelolaan sampah terintegrasi berbasis teknologi yang bukan hanya bicara lingkungan, tapi juga martabat manusia.
Modelnya sederhana tapi revolusioner. Tujuannya adalah memotong rantai permainan harga. Sebelumnya pemulung hanya mendapatkan sekitar Rp2.000/kg dari lapak, padahal di industri besar harga bisa mencapai Rp5.000/kg. Dengan teknologi integratif dan sistem sirkular, pendapatan pemulung bisa meningkat dua kali lipat.
Manfaat Teknologi yang Bukan Sekadar Seremonial
Banyak program lingkungan hanya berhenti di jargon, tetapi Waste Solution Hub bekerja dengan prinsip yang jelas yakni, end-to-end. Mulai dari sumber sampai proses akhir.
Dampaknya bisa diukur, bukan sekadar ditampilkan dalam poster. Misalnya,
- Mengedukasi lebih dari 23.000 orang tentang pengelolaan sampah.
- Memberdayakan lebih dari 1.200 pemulung.
- Menyalurkan ribuan paket sembako untuk pekerja informal saat pandemi.
- Mengelola ribuan kilogram sampah yang kembali masuk ke siklus produksi.
- Target jangka panjang: 10.000 mitra pemulung, 1.000 ton sampah per hari, dan 1.000 produk daur ulang.
Solusinya bukan hanya soal “bersih-bersih.” Ini adalah teknologi yang memperbaiki struktur sosial-ekonomi yang memberi nilai tambah pada tenaga kerja paling bawah, bukan perusahaan paling besar.
Dan yang jauh lebih penting, model ini bisa direplikasi di banyak daerah, asal ada kolaborasi nyala. Karena sampah bukan cuma urusan pemerintah, tapi juga menyangkut tentang peradaban.
Siti Salamah Diganjar SATU Indonesia Awards oleh ASTRA
Perjalanan panjang itu mengantarkan Siti Salamah menjadi salah satu finalis SATU Indonesia Awards 2021 di bidang teknologi. Ajang ini digagas Astra untuk mencari anak-anak muda Indonesia yang benar-benar menciptakan dampak nyata, bukan sekadar wacana inspiratif.
SATU Indonesia Awards sendiri adalah program apresiasi tahunan untuk individu atau kelompok usia 16–35 tahun yang bergerak di bidang Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, Kewirausahaan, dan Teknologi.
Di sinilah sosok seperti Siti menemukan panggung yang tepat, bukan untuk tampil, tapi untuk memperluas pengaruh gerakannya.
Pengakuan ini bukan sekadar penghargaan simbolik, melainkan validasi bahwa, model Waste Solution Hub layak diperluas dan menjadi referensi nasional.
Apakah Bisa Diterapkan di Daerah Lain?
Jawabannya: bisa. Dengan tiga catatan utama:
- Kesadaran warga: pemilahan sampah harus mulai di rumah, bukan baru di TPS.
- Keadilan rantai ekonomi: pemulung jangan hanya penerima sisa keuntungan, tapi mereka harus menjadi bagian utama sistem.
- Teknologi sosial: tidak harus canggih dulu, yang penting terintegrasi.
Kalau tiga hal ini berjalan, yang berubah bukan hanya lingkungan, tapi juga struktur kesejahteraan warga miskin di kota akan ikut berubah.
Ajakan untuk Generasi Muda
Jika satu gerakan lokal saja bisa berdampak sebesar ini, bagaimana kalau ada ratusan orang seperti Siti Salamah di seluruh Indonesia? Astra masih membuka panggungnya, bisa untuk kamu, komunitasmu, atau gerakan sosialmu.
Kalian bisa mendaftar untuk menjadi peraih SATU Indonesia Awards selanjutnya di sini: https://satuindonesiaawards.astra.co.id
Individu boleh. Kelompok juga boleh. Asal punya dampak nyata, bukan wacana ya...

.png)

Comments
Post a Comment